Tampilkan postingan dengan label CURHAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CURHAT. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2017

The Edge of Seventeen

Diposting oleh Pebri Haloho di 23.24 0 komentar
Hi,
Aku selalu berharap ada orang yang bakal ngebaca tulisanku. Meskipun akhirnya yang kudapat adalah kritik pedas, tapi aku berterimakasih karena sudah membaca tulisanku.


Hari ini aku nonton film yang judulnya "The Edge of 17", tujuannya adalah untuk menghilangkan penat karena seharian udah ngerjain proposal yang ngga kunjung kelar. Well, jadi aku buka-buka folder film yang ada di laptopku. Dan ada satu folder -yang aku tahu bahwa file film yang ada di dalamnya punya rating tinggi- yang kuincar. Walaupun semua film yang aku minta ataupun download itu punya rating tinggi sih.. Haha :D Terus aku lihat judul film-filmnya, dan ketemu film yang berjudul The Edge of Seventeen dan sejujurnya aku ngga terlalu interesting sama judul film ini. Soalnya aku udah bisa nebak ceritanya pasti seputar kisah anak umur 17-an yang ngga jauh dari urusan asmara dan sekolah, dan itu bukan gendre tontonan konsumsiku lagi yang sudah hampir menginjak umur seperempat abad ini. But, karena aku ngga punya stok film buat ditonton lagi (semua udah kelar aku tonton) jadi aku mau ngga mau, suka ngga suka, rela ngga rela, daripada makin pusing, langsung double klik file filmnya. Eh, aku bukannya lebay ya.. emang itulah yang aku rasakan. #eh #apaansih #malu #ih #ngga #penting #sok #mau #klarifikasi #ngga #lebay #padahal #alay #pake #banyak #hashtag

OKAY!! FORGET IT!!!!

Yang aku mau ceitaain sebenarnya adalah tentang sesosok pria yang muncul dalam film itu. Yang bikin aku mengakui adanya "LOVE AT FIRST SIGHT" tau gak. Acting dia itu loh yang bikin aku gemeessssszzzz. Jadi cerita filmnya ngga meleset dari dugaanku, kisah tentang anak 17-an, percintaan dan sekolahan. Singkat cerita, ada cewek yang introvert namanya Nadine, dari kecil hanya punya satu temen cewek namanya Krista. Nadine punya abang yang ganteng dan disukai banyak orang bernama Darian. Tapi bukan Darian yang pengen aku ceritain. Selain itu Nadine juga punya keluarga yang harmonis yang terdiri dari ibu dan bapak. Dan hanya bapaknya Nadine yang selalu ngedukung dia untuk menjalani hari-harinya. Masih belum, bukan bapaknya Nadine yang pengen aku ceritain. 

Nadine tumbuh jadi anak yang ceria sampai akhirnya semua berubah ketika negara api menyerang. Eh bukan. Sampai waktu bapaknya Nadine menginggal dunia. 

R.I.P Ayahanda dari Nadine

Setelah sekitar 4 tahun berlalu dari hari kepergian bapaknya, Nadine kehilangan sosok penyemangat. Dia hanya punya Krista sebagai sahabatnya, sementara itu abangnya ngga terlalu akrab dan suka bergaul dengannya. Selain Krista Nadine juga akrab -menurut aku sih- dengan salah seorang gurunya yang udah agak berumur yang selalu mendapat kritikan dari Nadine. Untung aja bapak gurunya selalu bijaksana dalam menanggapi sikap Nadine. Sebenarnya Nadine ini orang yang butuh sosok bapak deh keknya. Soalnya gurunya ini selalu dijadikan tempat curhat dan tempat pengaduan sama si Nadine. 

Sama seperti anak umur 17 lainnya, Nadine suka sama seorang cowok yang lumayan ganteng dan mandiri -soalnya dalam cerita ini dia udah kerja gitu- yang bernama Nick Mossman. Namun bukan cowok ini juga yang pengen aku ceritain. Hahaha :D

Berhubung Nadine yang ngga pandai bergaul susah untuk mengungkapkan perasaanya -meskipun kadang nih anak terlalu to the point kalau ngomong- dia terlalu canggung untuk mendekati kakak kelasnya itu. Nadine punya teman sekelas yang beda RAS dengannya bernama Erwin (orang Asia) dalam kelas sejarah. Pendidikan mereka diceritakan udah kayak anak kuliahan, ganti jam pelajaran ganti ruangan. Seragamnya juga ngga ada. Tapi kalau masih 17, harusnya masih SMA dong yakan. Ahh.. entah lah.. Pokoknya ceritanya mereka sekolah di SMA Lakewood. Erwin suka sama Nadine, awal-awalnya Erwin dengan canggung memuji sweater merah maroon yang dipakai Nadine. Tapi Nadine ngga terlalu menanggapi Erwin sih.

Masalah memuncak ketika ibu Nadine mau kopi darat sama pacarnya di luar kota dan meninggalkan Darian dan Nadine di rumah. Nadine dan Krista minum sesuatu yang aku rasa jus jeruk, sampai mabuk (LAH?). Darian dan teman-temannya yang lain berenang di kolam renang -ya iyalah, masa di sunge?- malam itu juga, semacam ada pesta kolam renang kecil-kecilan gitu. Nadine yang minum jus jeruk mabok, dan tertidur di kamar mandi. Sementara Darian yang baru aja ngadain swimmingpool party ngeberesin sampah-sampah yang ada di rumahnya. Krista yang saat itu juga ada di rumah mereka, berusaha membantu Darian membereskan sampah-sampah itu dan akhirnya terjadilah hal-hal yang mereka inginkan. Well, kalian ngga perlu aku jelasin kejadiannya gimana kan. Let your imagination fly.. Hahahaha. Waktu Nadine terbangun di kamar mandi, dia langsung merangkak keluar dan menuju kamar Darian. Dan Nadine shock melihat Darian dan Kista saat itu.

Nadine ngga terima, dia kesal. Sampai di sekolah, Nadine masih tertimpa maslah lagi yaitu dia ngga ngerjain tugasnya karena semalam dia mabok. Untung pak gurunya ngga killer. Nadine ketemu lagi sama Erwin. Erwin ngajak Nadine ngobrol waktu pelajaran nonton TV, terus ngajak hangout bareng Nadine berdua atau bisa juga rombongan. Yaahh.. standar laaahh.. basa-basi pas mau PDKT ama cewek. Gaya Erwin sok cool, tapi masih aja kelihatan canggung di dekat Nadine.

Pulang sekolah, Krista minta maaf sama Nadine, dan minta Nadine untuk pergi bareng ke suatu pesta bertiga dengan Darian. Dan Nadine berusaha mempertimbangkan ajakan Krista itu. Akhirnya Nadine ikut ke pesta itu dan dia ngga bisa bergaul dengan orang yang ada di sana. Krista malah asik main dengan Darian. Nadine kesal dan pulang ke rumah. Sampai di rumah Nadine berusaha untuk nge-add sosmed abang kelas yang disukainya yaitu, Nick. Tapi dia ragu, dan ngerasa dirinya menyedihkan. Akhirnya Nadine nelpon Erwin -aku ngga tau darimana Nadine tau no.hape Erwin- dan Erwin pas ngangkat telponnya shock dan salah tingkah gitu karena yang nelpon dia Nadine. Dia ngga bisa ngontrol dirinya, udah bilang "Halo", bilang "hay" lagi, nanya kabar berkali-kali, jawab kabar diri sendiri, ah.. pokoknya keliatan banget canggungnya. Akhirnya Nadine to the point aja ngajak Erwin ke Taman Hiburan, soalnya dia udah suntuk di rumah. Hahhahaha :D Kesian deh ni anak..

Sesampainya di Taman Hiburan, mereka naik biang lala. Secara Erwin suka sama Nadine terjadilah saat-saat awkward dan Nadine nyuruh Erwin cerita soal dirinya, tapi Erwin hanya jawab kalau dia hanya manusia yang biasa-biasa aja. Nadine nyuruh Erwin nyeritain soal keluarganya, dan pas Erwin mau jawab, Nadine motong perkataan Erwin dan mencoba nebak gimana keluarga Erwin, dan jatoh-jatohnya Nadine kayak rasis gitu, tapi Erwin ngga marah, dan engge-engge aja. Abis itu Nadine ngerasa bersalah karena bersikap seolah rasis, dan dia terdiam. Erwin ngeliatin Nadine dan ngga lama Erwin hampir nyosor si Nadine. Terus Nadine kaget, dan Erwin juga kaget. Anehnya Erwin yang udah berhasil nyiptain suasana awkward kedua, malah sempat nanya "Apakah itu bukan waktu yang tepat?" dia bilang juga dengan polosnya "Karna kita ada di biang lala, dan kau terliat kesal, makanya aku mencoba menenangkanmu." Wkwkwkwk ni anak polos atau gimana? Masa begitu? Untung si Nadine ngga punya perasaan, kalo punya udah ilfeel kali dia. Hahahahahaha :D Terus dia malu sendiri setelah kejadian itu, dan malah teriak-teriak ke operator supaya mereka diturunkan. Nadine ketawa kegelian ngeliat tingkah malu-maluin Erwin itu.

Hari berikutnya Nadine kembali dihadapkan dengan masalah dengan Krista dan Darian dan dia sempat menemui Nick ke tempat kerja Nick tapi tidak ada tanggapan baik dari Nick. Di sekolah Nadine nyariin Erwin dan ngga ketemu. Nadine yang makin tertekan minum pil penenang dan ngga lama setelah itu Erwin nelpon Nadine balik. Awalnya Nadine bilang kalau dia mau istirahat, karna baru minum obat. Erwin khawatir Nadine sakit, tapi Nadine bisa jelasin dan akhirnya Nadine malah pengen ke rumah Erwin untuk berenang. Walaupun sebenarnya Nadine cuma butuh teman. Nadine ini termasuk cewek yang pemberani menurutku. Erwin dengan senang hati menerima permintaan Nadine itu, dan mengirimkan alamat rumahnya pada Nadine. Ngga lama kemudian Nadine sampai ke rumah Erwin yang ternyata adalah anak orang kaya. Kolam renangnya isi air hangat. WOW sekali kaaaann. Kayaknya tingkah Erwin selama ini ngga nunjukkin sama sekali kalau dia itu anak orang kaya.

Langsung aja mereka berenang berdua, Nadine pakai baju renang ala bule dan suasananya romantis, plus kolam renangnya ada air terjunnya dan terjadi lagi awkward moment berikutnya. Nadine ngeliat Erwin yang agak mupeng, dan nanyain pertanyaan yang ekstrem menurut aku "Apa kau mau bercinta sekarang?" dan dengan muka serius tapi agak ragu Erwin jawab "Oke". Untung Nadine langsung bilang kalau dia bercanda dan hanya bersandiwara saat itu. Muka Erwin langsung menunjukkan rasa kecewa sedikit kesal dan pergi meninggalkan kolam renang. Nadine bertanya "Apa kau marah? Apa kau mau bercinta denganku barusan?" dan Erwin menjawab "Kau tidak boleh mengatakan itu kepada pria!" dengan muka kesal. Erwin keluar dari kolam renang, tapi Nadine berusaha mengembalikan mood Erwin dengan menyuruhnya kembali ke kolam renang. Kemudian Erwin mengambil sebuah remot yang diprediksi Nadine adalah remot yang dapat menguras seluruh air kolam. Ternyata Erwin memutar sebuah lagu di kolam renang dengan remot itu. Lalu mereka kembali berenang sampai malam hari. Ngga tau gimana bisa mereka tahan di air hangat seharian, kalau aku pasti udah berkerut semua kulit ujung jari.

Masih di dalam kolam renang, mereka berdua duduk menikmati air hangat dan Nadine kepergok lagi ngeliatin Erwin. Terus Nadine berusaha nyari topik pembicaraan dengan nanyain soal film Erwin yang ternayta bergabung dalam FFM (Festival Film Murid). Erwin akhirnya bercerita tentang rencanyanya membuat animasi. Setelah itu Erwin menunjukkan hasil gambar-gambarnya yang ada di kamarnya, dan itu berhasil membuat Nadine terpesona. Erwin kemudian mengajak Nadine untuk melihat pertunjukan hasil film ciptaan Erwin sabtu nanti. Dengan gayanya yang khas Erwin bilang jadwalnya pagi sekali dan itu sangat tidak nyaman, tapi dia berharap Nadine berkata 'iya' atau 'pikir-pikir dulu', dan dia bilang dia ngga mengharapkan jawaban sekarang karena ngga sopan dan akan terksan memaksa. Dan ternyata Nadine dengan senang hati mau datang.

Keesokan harinya masalah yang sama muncul lagi, Krista dan Darian semakin dekat dan mereka pergi ke sekolah bersama. Nadine yang diantar ibunya ke sekolah tidak mau bertemu dengan Krista dan Darian di sekolah, kaerna dia masih sangat kesal dengan tingkah mereka. Nadine menyuruh ibunya untuk memutar balik keluar sekolah sementara ibunya harus on time ke kantor. Ibunya menolak memutar balik, dan Nadine dibawa ke kantor ibunya. Ibunya kesal dengan tingkah kekanak-kanakan Nadine yang mengganggu pekerjaan ibunya. Ibunya mengatakan hal yang paling sensitif kepada Nadine, bahwa jika bapakknya Nadine melihat tingkah anaknya saat ini, dia pasti sangat kecewa. Perkataan ibunya langsung memicu emosi Nadine. Nadine mengambil kunci mobil ibunya dan berlari keluar kantor dan melarikan diri ke taman. Di taman, dia yang masih emosi dan tidak terkendali dengan tidak sengaja mengirimkan pesan yang agak berlebihan kepada Nick dan menjadwalkan janji ke suatu tempat.

Karena pesannya tidak sengaja terkirim, Nadine panik dan menemui guru sejarahnya dan meminta pertolongan dari gurunya. Namun gurunya mengatakan bahwa Nadine butuh cuti. Akhirnya karena merasa tidak ada solusi dari gurunya, Nadine pergi mencari cemilan dan sepulang dari mini market itu Nadine mendapat pesan balasan dari Nick yang mengatakan bersedia menemui Nadine. Nadine sangat senang, dan kembali ke rumah dan berdandan untuk bertemu Nick malam nanti. Kondisi rumah sangat berantakan ditinggalkan Nadine, dan saat ibunya pulang ibunya makin emosi melihat tngkah Nadine. Dan menelpon Darian untuk mencari Nadine. 

Sementara itu Nadine yang telah dijemput dan dibawa Nick ke tempat yang remang-remang merasa bahagia tiada tara apalagi ketika Nick menciumnya. Namun lama-lama Nick mulai melancarkan aksinya, tapi Nadine ingin mengenal Nick labih dalam. Nick berkata bahwa dia menemuai Nadine bukan untuk mengenalnya, tapi hanya untuk bercinta saja. Nadine kecewa berat dan menangis, dan akhirnya meminta guru sejarahnya menjemputnya. Guru sejarahnya yang bijaksana, menjemput Nadine dan membawanya ke rumahnya dan bertemu dengan keluarganya. Nadine terkejut karena menganggap guru sejarahnya tidak memiliki keluarga. Akhirnya gurunya menelpon orang tua Nadine, dan Nadine dijemput oleh Darian dan Krista. Nadine yang masih kesal dengan mereka mneolak pulang bersama, dan akhirnya setelah sedikit perdebatan Darian mengatakan bahwa ia memang tidak perduli pada Nadine (namun kenyataannya dia sibuk mencari dan menghubungi Nadine).

Nadine pulang ke rumah diantar oleh gurunya, dan sampai di rumah Nadine minta maaf atas kerusuhan yang dia lakukan selama ini. Nadine dipeluk oleh Darian menyatakan bahwa masalah mereka sudah tidak ada lagi. Dan keesokan harinya Nadine bergegas berangkat ke FFM Erwin. Ibu Nadine khawatir karena dia pikir Nadine belum pulang ke rumah dari tadi malam. Ibunya menelepon Nadine yang saat itu sudah berada pada bioskop pemutaran film dalam rangka FFM. Dan Nadine hanya mengirimi ibunya sms yang menyatakan bahwa dia baik-baik saja. Ibunya mulai tenang, dan akhirnya membiarkan Nadine.

Pemutaran film karya Erwin Kim disaksikan dan Nadine merasa bahwa animasi yang diciptakan oleh Erwin merupakan kisah antara mereka. Sesaat setelah selesainya peutaran film itu, Nadine memberikan bunga kepada Erwin dan mengucapkan selamat, dan Erwin yang emang baik mengenalkan Nadine kepada teman-temannya seperti memperkenalkan pacarnya kepada teman-temannya. Dan Nadine merasa lebih baik dari sebelumnya.

TAMAT

*****


Cukup sekian aja ya cerita singkatnya... (Beehh.. singkat apanya??)

HAHAHAHAHAHA

Jadi kalian udah tahu kan siapa cowok yang aku pengen ceritain. Yup!! Dia yang paling mencuri perhatianku sepanjang film itu berlangsung. Acting si pemeran Erwin dalam film ini benar-benar bagus!! Aku sukkkaaaaa.. :D Kalau kalian ngga percaya silahkan nonton langsung filmnya.

Selasa, 09 Februari 2016

Kecambah cinta

Diposting oleh Pebri Haloho di 15.38 0 komentar
Kisah ini adalah kisah yang paling membuat galau segalau-galaunya. Berlebihan mungkin bagi sebagian orang, tapi bagi mereka yang meraskan, hal ini bisa mengubah kehidupan mereka selamanya. Kisah apa? Ya apa lagi kalau bukan soal cinta.

Entah mengapa, kisah ini sangat menarik untuk diceritakan dan semua orang pasti punya peristiwa cinta yang berbeda, walaupun umur mereka sama, alamat mereka sama, tanggal lahir mereka sama, zodiak mereka sama, shio mereka sama, tapi tidak pernah sama kisah cintanya. 

Seperti itu pula aku. Aku bukan orang yang spesial, darimanapun dilihat tidak ada yang mencolok ataupun yang bisa diandalkan dari diriku. Tapi aku menginginkan cinta yang sempurna. Cinta yang tanpa air mata, cinta yang memberikan kekuatan, cinta yang penuh belas kasih, cinta yang menerima aku apa adanya, cinta yang saling membutuhkan, cinta yang hidup selamanya di hati meskipun raga sudah tidak tersentuh lagi. Aku mungkin terlalu perfeksionis. Tanpa melihat siapa diriku. Aku sudah tidak tahu diri. Tolong sadarkan aku.

Kali ini, aku mencintai seseorang yang tidak pernah ku kenal sebelumnya. Tidak pernah sekalipun aku berpikir bahwa aku akan jatuh cinta pada dirinya. Sebelumnya aku juga pernah pacaran. Dan memang butuh waktu yang lama untuk mulai mencintai pasanganku. Untuk itu aku tidak terlalu heran karena aku sudah mengalami peristiwa ini sebelumnya, aku tidak ambil pusing karena aku terlalu lama menyadari kalau aku sayang pada seseorang.


Namun, terkadang aku suka berubah pikiran. Layaknya kacang yang baru berkecambah, cinta bagiku juga sangat rapuh, tidak bisa sembarangan merawatnya. Butuh perawatan ekstra setiap hari supaya kokoh. Butuh waktu yang lama untuk menjadi tanaman sempurna. Cintaku tidak seperti tanaman lain yang mampu bertahan meski air sangat sedikit, atau saat hujan deras datang, banjir, atau panas terik. Kecambah cintaku akan tetap dorman selama tidak ada air, akan membusuk ketika terlalu banyak air, akan layu dan mati akhirnya jika kekeringan, akan tersapu air jika hujan deras datang.

Ketika perselisihan datang, aku selalu tidak bisa mentoleransi kesalahan pasangan.  Bahkan sedikit kata-kata kasar darinya yang menusuk ke dasar hatiku akan terbayang selalu di kepalaku, sehingga aku selalu membencinya. Cintaku layu, bagai kecambah yang dicabut dari sumber nutrisinya, dicampakkan ke padang gurun yang minim air dan disinari matahari lebih lama dibanding biasanya. Hampir mati, tapi tidak. Tersiksa. Dilain sisi aku akan memantapkan hatiku untuk mencintainya, mencoba mempertahankan keberadaannya disisiku, tapi pikiranku selalu tidak bisa melupakan perlakuan yang tidak mengenakkan bagiku. Emosiku memuncak, sehingga sering kali aku menangis tersedu-sedu di kamarku sendirian ketika mengingat kejahatan pasanganku. Bodoh mungkin kedengarannya, tapi begitulah aku.

Aku bukan tipe orang yang suka memaafkan, kadang ketika perselisihan datang karena kesalahankupun, aku enggan meminta maaf terlebih dahulu kepada pasanganku. Aku ini orang yang sangat egois. Aku tahu itu dan aku paham betul sifat egoisku tidak baik. Tapi egois mungkin sudah menjadi nama tengah bagiku, sehingga sangat susah untuk mengubahnya. 

Tidak jarang, aku memutuskan hubunganku sebelumnya dengan mantan kekasihku hanya karena perselisihan yang aku sendiri penyebabnya. Kisah cintaku kandas begitu saja, mungkin karena kecambah cintaku belum berkembang, sehingga kata-kata kasar atau perilaku yang tidak kusenangi akan menjadi sumber pertengkaran. Aku bukan tipe perempuan yang cemburuan, bukan juga tipe perempuan yang perhatian. Aku sangat jauh dari kesan romantis, sehingga ketika pasanganku ingin menciumkupun aku menolak. Kalau dia memaksa, akan menjadi akhir kisah cinta kami berdua.


Karena sifatku yang acuh tak acuh, egois, terkesan tidak cinta pada pasanganku. Sebenarnya aku sayang, hanya saja aku tidak bisa meluapkan perasaan itu seperti perempuan lainnya. Dalam kamusku pacaran itu hanya sebatas teman lelaki yang paling dekat, yang bisa diajak tukar pikiran, yang bisa menentramkan hati dan pikiran kalau ada masalah, yang bisa diajak kerja sama. Bukan yang bisa kecup pipi kiri kecup pipi kanan tiap ketemuan, bukan juga yang bisa meluk-meluk dijalan biar semua orang pada ngeliatin, bukan juga yang bisa diajak berhubungan suami isteri dengan mengatasnamakan keseriusan dan komitmen untuk saling mencintai.

Permasalahan yang sering muncul akibat sifat introvertku itu adalah kekasihku sering kali curiga kepada teman lelakiku yang lainnya. Kekasihku menuduh aku suka pada laki-laki lain, mencemoohku dengan kata kasar seperti aku ini adalah perempuan yang tidak punya pendirian, yang mau diajak jalan dengan laki-laki mana saja, menyinggung perasaanku secara tidak langsung dengan perkataannya. Alasan apapun yang aku lontarkan, yang sejujur-jujurnyapun tidak diterima, maka aku terpaksa mundur. Aku tidak suka jika tidak dipercaya. Meskipun banyak kelemahan dan kekuranganku, aku tidak pernah berkhianat dalam masalah percintaan. Yang ku bisa adalah ikhlas. Ikhlas menerima kalau pasanganku ternyata berpikiran pendek terhadapku, iklas karena perasaanku terpaksa harus aku buang perlahan-lahan, iklhas tersakiti dan harus kuat demi diriku sendiri. Ku biarkan kecambah cinta yang sudah mulai tumbuh terlantar begitu saja.


- FIN -

Kamis, 04 Februari 2016

.

Diposting oleh Pebri Haloho di 13.32 0 komentar
Masalah terus berganti, bukan karena diminta, tapi karena mungkin sudah siklus hidup yang kita jalani memaksa kita harus menemukan masalah dan mencari solusinya. Hidup ini ibarat game, ada level-level tertentu yang harus kita lewati dan kita juga harus siap menghadapi semua tantangan yang ada.

Hari ini juga aku ngerasain hal yang sama. Selalu ada masalah yang bikin mumet. Bukan cuma masalah sekolah, tambah masalah pribadi, udah gitu pas kondisi fisik juga lagi ngga fit. Masalahnya apa lagi kalo bukan seputar percintaan. Entah kapan, aku juga lupa -sorry- kami jadian. Kalau mau jujur, sebenarnya aku ngga pernah punya felling apa-apa ke dia. Tapi lama-lama aku makin nyaman. Secara dia bisa nge-treat me like a princess. Gimana ngga, awal jadian antar jemput kemana aja. Makan bareng pasti dibayarin terus. Dia juga selalu dengerin curhatan-curhatan ngga jelas dari aku. Dia baik baik baik banget sama aku. Cuma kadang aku ngga bisa ngebales kebaikan dia, dan itu akhirnya jadi masalah.

Belom lagi dia selalu ngajak ke tempat orang tuanya, mau dikenalin katanya. Kalo aku ngga mau ikut ke rumah orang tuanya, eh.. dianya yang maksa pengen dateng ke rumah orang tuaku. Dan itu bikin risih sebenarnya. Tapi karena aku masih belum ada kejelasan untuk hubungan kami. Aku masih belum siap untuk diajak ke jenjang yang lebih serius. Masalahnya adalah, dia bukan anak muda yang usianya masih 25-an. Orang tua, sanak saudara, kerabat dekat, teman, dan kolega-koleganya seakan sudah menuntuk dia untuk menikah. 

Ajakan untuk menikah bukan hanya sekali atau dua kali yang ku dengar dari dia. Sudah ratusan kali mungkin. Tapi aku masih belum siap, masih terlalu dini untuk menikah bagiku. Dan anggapan kalau menikah akan memperlancar urusan karena bisa dikerjakan berdua itu sangat tidak logis. Justru bagiku akan memperrumit masalah hidup. Aku masih menjalani kuliah magisterku, aku juga punya cita-cita dan harapan yang besar suapaya bisa jadi dosen. Aku ngga mau stuck hanya jadi guru honorer di sekolah swasta yang gajinya ngga seberapa tapi tuntutan kerjanya luar biasa menguras energi, pikiran, dan waktu. Aku ingin sekali menjadi apa yang aku mau sebelum akhirnya aku memutuskan menikah.

Dilain pihak aku juga memikirkan posisinya sebagai anak, dan orang tuanya sudah menginginkan dia membentuk rumah tangga. Tidak mudah baginya untuk memberi jawaban kepada orang tuanya. Aku juga paham bagaimana dia berusaha meyakinkan aku agar mau menikah dengannya. Usaha yang lumayan keras untuk membuktikan dia serius menjalani hubungan ini denganku. Bahkan dia rela menungguku sampai aku selesai sekolah. Tapi aku juga tidak tega karena dia harus dilangkahi oleh adiknya. Aku juga tidak ingin ada yang tersakiti diantara kami dan keluarga kami.

Aku sudah memberikan pengertian semampuku kepadanya, bahwa aku tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaannya. Kalau dia ingin cepat menikah, dia tidak perlu menungguku selama ini. Aku juga sudah mengutarakan tentang cita-citaku yang tidak gampang meraihnya. Aku ingin memiliki prestasi dan masih ingin menikmati masa mudaku. Aku tidak ingin melepas kesempatan kalau ada. Aku masih belum menginginkan komitmen yang mengikat.

Bayangkan saja kalau nanti saat aku masih kuliah, dan aku menikah. Aku akan disibukkan dengan pekerjaan rumah, tugas kuliah, masalah keluarga, belum lagi kalau aku hamil dan memiliki anak. Semua akan terbengkalai, aku tidak bisa 100% di rumah, dan ataupun tidak bisa mengerjakan tugas kuliah 100%. Dan itu merugikan. Benar-benar merugikan.

Aku juga tidak ingin dikekang, tidak ingin diperintah, dan aku adalah aku. Kali ini, bukan, sudah beberapa kali aku menceritakan hal yang menurutku biasa. Tapi menurutnya adalah hal yang luar biasa. Bisa membuat dia gusar, cemburu, uring-uringan dan tidak enak badan. Padahal aku cuma meminjam DVD teman sepekerjaan denganku untuk ku tonton sebagai hiburan di kos. Aku merasa tidak ada yang salah dengan itu. Atau mungkin dia memang sudah merasa cemburu diawal karena guyonan sesama teman di sekolah tempat kerjaku yang menurutnya sudah keterlaluan. Tapi aku sudah berapa kali menjelaskan, bahwa tidak ada yang salah dengan candaan dan meminjam DVD orang lain. Tidak akan mengubah apapun antara aku dan dia. Tapi dia tidak mau mengerti. Dia seolah memojokkan aku dengan kata-kata yang menyakitkan hatiku. Tapi aku tidak ingin menangis didepan siapapun. Karena itu membuat aku kelihatan lemah.

Dia juga pernah berjanji tidak akan meninggalkanku, kecuali aku yang meninggalkannya. Tapi perkataannya kemarin mematahkan pernyataannya sebelumnya. Dia sudah 3 kali memutuskan hubungan secara tidak langsung denganku. Aku ingat dengan jelas. Tapi aku masih sabar, aku juga bingung rekasiku tidak terlalu berlebihan dengan kata-katanya. Mungkin aku mulai menyayanginya. Masa pacaranku sebelumnya tidak pernah terjadi yang seperti ini. Jika aku diputuskan, maka tidak ada alasan lain untuk kembali meneruskan hubungan. Putus ya putus. Mau berapa kali diajak balikanpun aku sudah tidak mau lagi. Tapi kalau diajak berteman aku sangat terbuka. Aku juga tidak  ingin mantanku menjadi musuh seumur hidupku.

Kali ini berbeda. Aku sudah dibiarkan dan direndahkan sebenarnya dengan perkataannya bahwa aku bisa berbuat sesukaku dan aku harus jadian dengan orang yang kupinjami DVDnya itu. Aku kesal, aku marah, aku sedih dia bisa bicara seperti itu. Mungkin dia mengujiku. Tapi tidak seperti ini seharusnya. Aku bisa saja menutuskan hubungan dengannya. Tapi aku akan lebih sakit lagi. Jika teringat dia dengan sabar menungguku turun ke teras kosku mungkin sampai sejam. Atau kalau aku pulang dari kampus malam, dia juga rela menungguku. Tapi dia juga bisa menikamku dengan kata-kata seperti itu. Aku seperti terkurung, tak berdaya. Karena jika memutuskan hubungan dengannya pasti orang yang bersalah adalah aku. Entah harus bagaimana lagi. Tapi aku tidak suka diperlalukan seperti itu. Seolah aku ini wanita yang gampang didapatkan, sama seperti wanita jalanan. Dia tidak mengatakannya, tapi itu yang kurasa.

 

THINGS TO REMEMBER Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea