Selasa, 17 Mei 2011

CERITA

Diposting oleh Pebri Haloho di 12.25 0 komentar

CERITA



            Pagi ini aku akan berangkat ke sekolah baruku. Melanjutkan apa yang kedua orang tua ku inginkan. Aku harus masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Dan, akhirnya aku lulus di sekolah akademik yang setiap siswa seangkatanku pasti menginginkan bersekolah di sana. Karena hanya siswa yang berprestasi yang dapat bersekolah di tempat itu.
Berbeda dengan aku. Aku sama sekali tidak ingin melanjut ke tempat yang penuh dengan tekanan. Aku ingin bersekolah di tempat yang biasa saja, asalkan ada guru yang bisa mengajar dan teman-teman lamaku disana.
            Tapi ini semua harus ku lalui, karena aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku. Kemarin malam sebelum hari penerimaan murid baru, aku menentang keras untuk bersekolah di sekolah itu. Bahkan aku mengalami depresi saat orang tuaku membentakku agar aku mau bersekolah di tempat itu. Dan seperti biasa, kata-kata mereka tidak dapat aku bantah.
            Pagi ini adalah pagi yang aku tidak inginkan. Aku berusaha memikirkan jalan terbaik untuk masalahku ini, tetapi waktuku hanya semalaman, dan aku masih belum meiliki jalan keluar yang terbaik. Hatiku mulai gelisah. Aku berusaha untuk menyanyakan kembali pada orang tuaku.
            “Ma, apa aku harus bersekolah di tempat itu?” tanyaku.
            “Kenapa lagi sayang? Kamu ini sudah bagus dapat sekolah di situ. Itukan sekolah terbaik di kota ini, masa kamu mau melepasnya?” kata mamaku, dan aku tahu dengan pasti mama sebenarnya menjawab pertanyaanku itu dengan jawaban “Ya, Harus.!”.
            Aku tertunduk dan berusaha menunjukkan pengekangan diriku pada orang tuaku, tapi sepertinya mereka tidak akan mengubah keputusan mereka.
            “Ya sudah kalau begitu, kita berangkat ya sayang.” kata papa mengajakku.
            “Emmm .. Aku pergi sendiri aja pa, lagian arah tempat kerja papa kan lain sama sekolah baruku. Berangkat ya ma, pa.” aku bergegas mengambil sarapanku di atas meja dan menyambar keluar.
            “Hati-hati ya sayang …” kata mama dan papa serentak. Meski aku sama sekali tidak berniat untuk hati-hati di jalan, tapi aku menjawab “iyaaa…”
            Dengan langkah lesu aku menapaki jalan menuju stasiun bus yang sampai ke tempat yang aku tidak sukai itu, dan stasiun bus itu lumayan jauh. Jarum jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 07.00 WIB. Dan aku tahu aku pasti terlambat.
            Aku merasa hari ini akan jadi hari yang buruk. Dan buruk, dan buruk, dan lebih buruk lagi. Dalam pikiranku hanya ada kekesalan pada orang tuaku.
            ‘Tiiinn… tiiinnn…’ bunyi klakson motor seseorang yang berkendara di belakangku. Aku berusaha jalan semakin ke pinggir, meski sebenarnya aku sudah berjalan di pinggir.
            ‘Tiiinnnnnn… tiiiiiiiinnnnnnnnnn…!!’ bunyi itu lagi. Dan kali ini sepertinya sangat memaksaku. Tapi aku tidak menolehkan wajah sedikitpun kearah bunyi itu berasal. Aku hanya berusaha memelankan langkahku agar dia bisa segera melewati aku.
            ‘Tiinnn.. tiiinn….tinnn…’ bunyi itu berulang ulang. Dan aku mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang diinginkan pengemudi itu. Aku menghentikan langkah kakiku dan membalikkan badan. Hendak menanyakan apa yang diinginkan pengemudi itu, tapi sesaat setelah aku melihat sosok yang memekai seragam yang sama denganku, aku diam.
            Lalu dia memelankan laju motornya dan dengan tersenyum menyapaku. “Hei, kita satu sekolah kan. Kita udah hampir telat ni, kamu bareng aku aja ya.” Katanya dengan wajah yang sangat ramah. Yang belum pernah ku dapatkan dari orang lain selain teman atau saudaraku. Bahkan tidak dari kedua orang tuaku.
            Aku masih diam, firasat buruk mulai muncul. Aku tidak tahu apakah dia adalah orang yang benar ingin membantuku, atau hanya sekadar basa-basi saja, seperti kebanyakan orang lakukan didepanku.
            “Heiii… ayo buruan.. ntar kita makin telat ni..” katanya sambil menarik tanganku. Aku baru melihat ada orang yang begitu berani terhadap orang yang tidak dikenal sama sekali. Tapi, aku ikuti kemauannya juga, aku duduk diboncengan.
            Kemudian dia maju dengen kecepatan tinggi, seakan berselancar di udara. Aku terpaksa menahan rokku, sementara pegangan yang lain meski sudah kupegang erat, tapi tetap tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhku. Mungkin ini kecanggungan tubuh orang yang tidak terbiasa naik motor.
            “Eh, kamu pegangan ke aku. Nanti kamu jatuh.” suaranya jelas ditelingaku meski ia memakai helm.
            Aku tidak mengindahkan permintaannya yang satu ini. Mungkin dia sadar kalau aku tidak ingin menyentuhnya. Dia memperlambat kecepatan motornya.
            “Heii… kamu apa enggak takut terlambat ni??” tanyanya.
            Aku hanya diam.
            “Emmm, kamu kelas apa?” tanyanya lagi, kali ini dia menoleh kearahku. Karna aku merasa pertanyan itu cukup logis dan mudah untuk di jawab, aku menjawabnya, “Kelas junior B”.
            “Ohh…. Ternyata anak junior B, deketan dong sama kelasku. Aku kelas junior A.” katanya dengan senyum. Dia menjawab pertanyaan yang seharusnya aku tanyakan terlebih dahulu.
            “Suka sekolah di situ nggak?” tanyanya lagi. Kali ini pertnyaan yang sangat mengena padaku. Baru kai ini aku dimintai pendapat tentang apakah aku suka sesuatu atau tidak. Biasanya orang tuaku menyediakan semuanya tanpa memikirkan aku akan suka atau tidak. Termasuk mendaftarkanku dan menyuruhku mengikuti tes saringan masuk sekolah akademik. Tapi dia menanyakan hal yang berbeda dari kebanyakan orang lain. Teman-temanku saja tidak menanyakan bagaimana perasaanku. Mereka hanya menyelamatiku saja saat mengetahui aku lulus.
            “Emm.. tidak.” jawabku singkat. Aku merasa dia akan banyak mempertanyakan hal-hal lainnya yang tidak wajar karena jawabanku itu.
            “Hehehe, kok sama? Aku juga nggak suka sekolah di sekolah akademik. Meski orang lain ingin sekali, tapi aku lebih suka di sekolah biasa aja. Kamu kenapa nggak suka?” pertanyaan yang sudah ku tebak.
            “Emm, aku juga lebih suka bersekolah di tempat yang biasa.” jawabku.
            “Oooo… hahaha….” balasnya.
            Mungkin dia juga merasa janggal berbicara denganku. Dan 15 menit kemudian, kami tiba di sekolah.
            Dia langsung memarkirkan motornya, dan bergegas ingin masuk ke barisan. Tapi aku sebaliknya, aku bahkan tidak mempercepat langkah kakiku. Dia menoleh, dan menarik tanganku.
            “Kita bener-bener udah terlambat nihh..” katanya menarik tanganku dan dengan setengah berlari.
            Tak mujur, seorang guru yang berda di dekat piket melihat kami. Dan kami harus menghadap pada guru itu.
            “Kalian berdua, cepat kemari!!” teriak guru yang kelihatannya galak itu. Kami menuruti perintah guru itu.
Kulihat laki-laki yang menarik tanganku ini masih menunjukkan wajah gembira, dia masih bisa tersenyum walaupun sepertinya dia tahu kalau akan ada masalah yang akan dihadapinya. Aku berpikir, apa benar dia yang sudah masuk sekolah favorit, dan juga kelas favorit, merasa tidak suka bersekolah di tempat yang paling spesial? Dan tidak ada jawaban yang pasti, karena aku hanya menanyakan hal itu dalam hati.
Dia menarikku dan menghampiri pak guru yang berdiri sekitar seratus meter di depan kami.
            “Maaf pak, kami terlambat.” katanya kepada guru itu.
            “Kalian berdua ini siswa yang bagaimana? Hari ini upacara penerimaan siswa baru, tapi kalian berdua terlambat. Kenapa kalin terlambat?” tanya lelaki paruh baya itu sedikit marah. Dan banyak lagi ucapan guru itu yang sama sekali tidak enak di dengar. Aku hanya bisa diam, tertunduk dan hampir menangis. Aku tidak pernah dimarahi seperti ini sebelumnya. Di sekolah lamaku, aku bahkan dijadikan anak emas.
            “Maaf pak, tadi ban motor saya bocor, jadi dia menolong saya ke bengkel di jalan pak.” tiba-tiba laki-laki yang berada di sebelahku ini berbicara.
            Pak guru yang sepertinya sudah bosan memarahi kami,  hanya diam saja mendengar alasan siswa laki-lakinya itu. Dan upacara pun sepertinya menjelang akhir.
            ‘Kalian tahu, hari ini kalian tidak mengikuti upacara penerimaan, jadi kalian tidak diterima di sekolah ini sebagai siswa.” kata guru itu. Sontak kami berdua terkejut.
“Masa karena terlambat beberapa menit saja pada upacara penerimaan siswa baru kami jadi diterima?” pikirku. Seharusnya aku senang dengan kata-kata yang diucapkan guru itu. Tapi sekarang berbeda, aku merasa perjuanganku selama ini untuk tidak mengecewakan orang tuaku telah berakhir.
Air mataku mulai menetes tanpa kusadari. Aku jadi menyesal dan memikirkan kejadian buruk ini yang ikut menimpa orang lain yang tak ku kenal, dan seharusnya dia tidak mengalami hal ini.
“Padahal dia seharusnya tidak terlambat datang kesekolah, tapi karena ingin membantuku dia jadi ikut terlambat. Dan jika tadi sebentar saja aku berpegangan padanya, pasti kami akan lebih cepat sampai kesekolah karena dia sangat cepat mengendarai motornya, tapi aku malah tidak ingin menyentuhnya” sesalku dalam hati.
Aku ingin sekali meminta pada guru itu agar kami tidak dikeluarkan, atau setidaknya laki-laki ini tidak dikeluarkan, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Pak, saya minta maaf Pak. Saya tidak bermaksud untuk tidak menghadiri upacara penerimaan  siswa baru ini secara sengaja pak. Saya mohon pak, agar kami bisa diterima kembali.” pinta anak laki-laki di sebelahku.
Tapi, guru itu malah menujuk kearah gerbang sekolah, seakan tangannya mengatakan kami berdua harus pergi.
“Tapi Pak…” kata anak laki-laki itu lagi.
Aku melihat kesungguhan di matanya. Guru itu mengngerutkan dahinya.
“Saya siap dihukum Pak, asalkan saya bisa tetap sekolah disini.” katanya dengan wajah memelas.
“Ada apa dengan kedua murid ini Pak?” tanya seorang laki-laki dengan suara berat berjalan dari belakang guru yang memarahi kami.
“Ini Pak, mereka terlambat. Seharusnya mereka tidak diterima lagi di sekolah ini, tapi mereka menolak saya suruh pulang.” kata guru itu.
Sesaat kami semua terdiam. Kemudian kedua guru itu memisahkan diri dari kami dan membicarakan sesuatu yang kami berdua tidak dapat mendengarnya.
“Heii.. Kamu udah gak nagis lagi kan? Aku akan berusaha supaya kita gak jadi dikeluarkan.” katanya dengan sedikit berbisik.
Aku mulai mengangkat wajahku dan menatap wajahnya dengan sejelas-jelasnya.
“Apa kamu begitu sedih??” tanyanya padaku. Masih kulihat senyumnya yang tulus. Dia tidak tampak seperti manusia dihadapanku, aku tak tahu apakah ini efek dari mataku yang masih berkaca-kaca karena air mata, tapi dia tampak seperti malaikat.
“Heii, kenapa kamu ngeliat aku gitu si? Kamu suka aku ya…? Hahaha.” godanya.
Aku tersadar dan mengalihkan pandanganku. Kulihat dua guru itu masih berbicara hal yang tidak kami ketahui.
“Apa kamu yakin kita akan tetap bisa bersekolah di sini?” tanyaku.
“Yakin, kenapa enggak?” jawabnya.
“Aku tidak..” kataku.
“Ohh, jadi karena itu kamu hanya bisa nangis dan gak mau membela diri? Kita gak akan mungkin dikeluarkan gitu aja kok. Percaya deh.” tegasnya.
Akhirnya guru piket tadi menghampiri kami.
“Tadi kalian bilang siap dihukumkan? Ikut saya!” katanya dan pergi.
Kami berdua saling menatap dan mengikuti guru itu. Ternyata kami dapat Surat Peringatan I dari sekolah. Dan dihukum membersihkan halaman sekolah selama seminggu penuh.
“Hahahaha, baru hari pertama sekolah di sini kita udah dapat masalah ya.. Masa udah dapat SP I? Bisa masuk Rekor Dunia nih..” katanya padaku dengan senyum itu lagi.
“Makasih ya..” jawabku.
“Untuk apa? Untuk SP pertama kita ini atau untuk rekor keterlambatan kita?” katanya.
“Kamu udah mau bantu aku walau kita belum saling kenal.” jawabku denagn suara lembut.
“Iya… iya… Eh, aku duluan ya.” katanya sambil berjalan memasuki ruang kelasnya.
Aku mengangguk.
***

            Pulang sekolah, kami berdua harus membersihkan lapangan sekolah.
            “Gimana mau betah sekolah di sini, hari pertama aja udah bermasalah..” keluhku. Sambil memegang sapu lidi dan serok aku membersihkan lapangan. Untung saja saat pulang sekolah hari pertama ini tidak banayk siswa yang nongkrong di halaman sekolah.
            “Hay…!!” suara yang sudah ku kenal menyapaku.
            “Hay..” balasku datar sambil menegakkan punggungku yang dari tadi bungkuk. Kulihat wajahnya masih dengan senyuman yang sungguh mempesona. Makin lama makin menarik saja, tapi aku tidak mau dia tahu kalau aku menyukai tingkahnya itu.
            “Bantuin dong!!” kataku agak sedikit memaksa.
            “Ehh.. Iya-iya, ini juga aku mau bantuin.. hehehe” jawabnya.
            Aku ini memang agak sulit bergaul, padahal ini adalah hal yang positif ada orang lain yang mau menolong dan welcome sama aku, tapi kenapa aku malah gak welcome? Aku juga tidak tahu, mungkin bagiku terlalu cepat aku untuk mempercayai seseorang dalam waktu setengah hari.
            Tugas membersihkan halaman akhirnya selesai tanpa ada basa-basi lagi antara aku dan anak laki-laki itu. Sesudah membereskan peralatan, kami mencuci tangan dan harus melapor kepada satpam.
            “Akhirnya selesai juga ya..” katanya dengan senyum itu lagi. Aku meliriknya dan hanya diam saja, seolah hanya aku yang bekerja.
            “Kenapa sih dari tadi diem aja? Kamu sakit?” tanyanya.
            “Enggak kok.” jawabku.
            “Trus?” tanyanya lagi.
            Aku bingung mau menjawab apa. Aku memang tidak mempunyai alasan kenapa setiap melakukan suatu pekerjaan aku selalu diam.
            “Kamu pasti jengkel ngerjain pekerjaan yang kamu tidak ingini kan. Kalo kamu anggep kita lagi dihukum, emang malu dan ngejengkelin hasilnya. Tapi, kalo kamu  anggap kita lagi olahraga, pasti gak berat deh ngelakuinnya. Take it easy aja lahh..” katanya.
Aku mulai menganalisa setiap kata-katanya, mungkin dia sedang berkata jujur, sehingga walaupun dalam keadaan yang tidak baik, dia masih bisa tersenyum.
Setelah melapor kepada pek satpam, aku dapat tawaran dari laki-laki yang sudah banyak sekali memberi pelajaran padaku hari ini. Tapi, entah kenapa aku bersikeraas untuk pulang sendiri. Dan akhirnya kami pulang sendiri-sendiri.
            Sampai di rumah, tidak ada siapa-siapa. Orang tuaku bekerja dan akan pulang sore menjelang malam. Seharusnya aku juga mengikuti berbagai macam les, privat atau semacamnya, tapi mama mengijinkan aku libur.


 (To Be Continued ...)

TEST FORMATIF 3 - UJIAN MIPA DASAR

Diposting oleh Pebri Haloho di 11.52 0 komentar
Ujian Bersama untuk nilai Formatif 3, mata kuliah BIOLOGI UMUM II tahun 2011. :)

SILAHKAN DI SANTAP.. :D
 















 (Kalau tulisannya kurang jelas, klik double aja. Nantik keluar foto dengan ukutan sebenarnya.. :)) Sekian..)

Senin, 16 Mei 2011

Lady GaGa - The Edge of Glory

Diposting oleh Pebri Haloho di 12.40 0 komentar
 

there ain't no reason you and me should be alone
tonight, yeah baby
tonight, yeah baby
i got a reason that you're who should take me home tonight

i need a man that thinks it's right when it's so wrong
tonight, yeah baby
tonight, yeah baby
right on the limits where we know we both belong tonight

it's time to feel the rush
to push the dangerous
i'm gonna run back to, to the edge with you
where we can both fall over in love

i'm on the edge of glory
and i'm hanging on a moment of truth
i'm on the edge of glory
and i'm hanging on a moment with you
i'm on the edge
the edge
the edge
the edge
the edge
the edge
the edge
i'm on the edge of glory
and i'm hanging on a moment with you
i'm on the edge with you

another shot before we kiss the other side
tonight, yeah baby
tonight, yeah baby
i'm on the edge of something final we call life tonight
alright, alright

pull on your shades
'cause i'll be dancing in the flames
tonight, yeah baby
tonight, yeah baby
it doesn't hurt 'cause everybody
knows my name tonight
alright, alright

it's time to feel the rush
to push the dangerous
i'm gonna run back to, to the edge with you
where we can both fall over in love

i'm on the edge of glory
and i'm hanging on a moment of truth
i'm on the edge of glory
and i'm hanging on a moment with you
i'm on the edge
the edge
the edge
the edge
the edge
the edge
the edge
i'm on the edge of glory
and i'm hanging on a moment with you
i'm on the edge with you

i'm on the edge with you

i'm on the edge with you

i'm on the edge of glory
and i'm hanging on a moment of truth
i'm on the edge of glory
and i'm hanging on a moment with you
i'm on the edge
the edge
the edge
the edge
the edge
the edge
the edge
i'm on the edge of glory
and i'm hanging on a moment with you
i'm on the edge with you


Lady GaGa - Judas

Diposting oleh Pebri Haloho di 12.25 0 komentar
 
 
Oh-oh-oh-ohoo
I'm in love with Juda-as, Juda-as

Oh-oh-oh-ohoo
I'm in love with Juda-as, Juda-as

Judas Juda-a-a, Judas Juda-a-a, Judas Juda-a-a, Judas GaGa
Judas Juda-a-a, Judas Juda-a-a, Judas Juda-a-a, Judas GaGa

[Lady Gaga - Verse 1]
When he comes to me, I am ready
I'll wash his feet with my hair if he needs
Forgive him when his tongue lies through his brain
Even after three times, he betrays me

I'll bring him down, bring him down, down
A king with no crown, king with no crown

[Chorus]
I'm just a Holy fool, oh baby he's so cruel
But I'm still in love with Judas, baby
I'm just a Holy fool, oh baby he's so cruel
But I'm still in love with Judas, baby

Oh-oh-oh-ohoo
I'm in love with Juda-as, Juda-as

Oh-oh-oh-ohoo
I'm in love with Juda-as, Juda-as

Judas Juda-a-a, Judas Juda-a-a
Judas Juda-a-a, Judas GaGa

[Lady Gaga - Verse 2]
I couldn't love a man so purely
Even darkness forgave his crooked way
I've learned love is like a brick, you can
Build a house or sink a dead body

I'll bring him down, bring him down, down
A king with no crown, king with no crown


[Chorus]
I'm just a Holy fool, oh baby he's so cruel
But I'm still in love with Judas, baby
I'm just a Holy fool, oh baby he's so cruel
But I'm still in love with Judas, baby

Oh-oh-oh-ohoo
I'm in love with Juda-as, Juda-as

Oh-oh-oh-ohoo
I'm in love with Juda-as, Juda-as

EW

[Bridge]
In the most Biblical sense,
I am beyond repentance
Fame hooker, prostitute wench, vomits her mind
But in the cultural sense
I just speak in future tense
Judas kiss me if offensed,
Or wear ear condom next time

I wanna love you,
But something's pulling me away from you
Jesus is my virtue,
Judas is the demon I cling to
I cling to

[Chorus]
I'm just a Holy fool, oh baby he's so cruel
But I'm still in love with Judas, baby
I'm just a Holy fool, oh baby he's so cruel
But I'm still in love with Judas, baby

Oh-oh-oh-ohoo
I'm in love with Juda-as, Juda-as

Oh-oh-oh-ohoo
I'm in love with Juda-as, Juda-as

Judas Juda-a-a, Judas Juda-a-a
Judas Juda-a-a, Judas GAGA

 

 

Eminem - Not Afraid

Diposting oleh Pebri Haloho di 11.54 0 komentar

I'm not afraid to take a stand
Everybody come take my hand
We'll walk this road together, through the storm
Whatever weather, cold or warm
Just let you know that, you're not alone
Holla if you feel that you've been down the same road

(Intro)

Yeah, It's been a ride...
I guess I had to go to that place to get to this one
Now some of you might still be in that place
If you're trying to get out, just follow me
I'll get you there

(Verse 1)

You can try and read my lyrics off of this paper before I lay 'em

But you won't take this thing out these words before I say 'em

Cause ain't no way I'm let you stop me from causing mayhem

When I say 'em or do something I do it, I don't give a damn

What you think, I'm doing this for me, so fuck the world

Feed it beans, it's gassed up, if a thing's stopping me

I'mma be what I set out to be, without a doubt undoubtedly

And all those who look down on me I'm tearing down your balcony

No if ands or buts don't try to ask him why or how can he

From Infinite down to the last Relapse album he's still shit'n

Whether he's on salary, paid hourly

Until he bows out or he shit's his bowels out of him

Whichever comes first, for better or worse

He's married to the game, like a fuck you for christmas

His gift is a curse, forget the earth he's got the urge

To pull his dick from the dirt and fuck the universe

(Hook)

I'm not afraid to take a stand
Everybody come take my hand
We'll walk this road together, through the storm
Whatever weather, cold or warm
Just let you know that, you're not alone
Holla if you feel that you've been down the same road

(Verse 2)
Ok quit playin' with the scissors and shit, and cut the crap

I shouldn't have to rhyme these words in the rhythm for you to know it's a rap

You said you was king, you lied through your teeth

For that fuck your fillings, instead of getting crowned you're getting capped

And to the fans, I'll never let you down again, I'm back

I promise to never go back on that promise, in fact

Let's be honest, that last Relapse CD was "ehhhh"

Perhaps I ran them accents into the ground

Relax, I ain't going back to that now

All I'm tryna say is get back, click-clack BLAOW

Cause I ain't playin' around

There's a game called circle and I don't know how

I'm way too up to back down

But I think I'm still tryna figure this crap out

Thought I had it mapped out but I guess I didn't

This fucking black cloud still follow's me around

But it's time to exercise these demons

These motherfuckers are doing jumping jacks now!

(Hook)

I'm not afraid to take a stand
Everybody come take my hand
We'll walk this road together, through the storm
Whatever weather, cold or warm
Just let you know that, you're not alone
Holla if you feel that you've been down the same road

(Bridge)

And I just can't keep living this way
So starting today, I'm breaking out of this cage
I'm standing up, Imma face my demons
I'm manning up, Imma hold my ground
I've had enough, now I'm so fed up
Time to put my life back together right now

(Verse 3)

It was my decision to get clean, I did it for me

Admittedly I probably did it subliminally for you

So I could come back a brand new me, you helped see me through

And don't even realise what you did, believe me you

I been through the ringer, but they can do little to the middle finger

I think I got a tear in my eye, I feel like the king of

My world, haters can make like bees with no stingers, and drop dead

No more beef flingers, no more drama from now on, I promise

To focus soley on handling my responsibility's as a father

So I solemnly swear to always treat this roof like my daughters and raise it

You couldn't lift a single shingle on it

Cause the way I feel, I'm strong enough to go to the club

Or the corner pub and lift the whole liquor counter up

Cause I'm raising the bar, I shoot for the moon

But I'm too busy gazing at stars, I feel amazing and

(Hook)

I'm not afraid to take a stand
Everybody come take my hand
We'll walk this road together, through the storm
Whatever weather, cold or warm
Just let you know that, you're not alone
Holla if you feel that you've been down the same road




saya, ebonk
 

THINGS TO REMEMBER Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea