--- CERITA INI FIKTIF BELAKA, JIKA ADA KESAMAAN NAMA, LOKASI, GENDER, BUKAN FAKTOR KESENGAJAAN ---
Pagi ini gerimis menyambut, aku setengah berlari ke arah trotoar kampus sambil menutup kepalaku. Dalam hati aku hanya berdoa supaya dosen yang mengajar di kelasku juga ikut-ikutan telat dateng karna hujan. Kalo dosennya dateng diluan, udah pasti ngga akan dikasi masuk kelasnya. Dan hal itu yang pantang aku lakukan, secara dosennya galak dan ngga segan-segan ngasi nilai E sama mahasiswanya.
Tiba-tiba ada suara "CKKKKIIIIIIIIITTTTTTT.." bunyi rem kendaraan, aku tersentak karena bunyi itu keras sekali. Aku memutar arah pandangku ke belakang, melihat keadaan apa sebenarnya yang terjadi. Ternyata ada seorang anak laki-laki yang sedang menyeberang jalan tanpa lihat kanan-kiri, dan hampir tertabrak angkot yang ngebut juga.
Anak laki-laki itu sepertinya tidak asing, dia tinggi, rambutnya basah karena gerimis, pakaiannya juga setengah basah, dia terlalu mencolok, apalagi dengan kejadian barusan. Entah berapa lama aku menyaksikan kejadian itu, lupa akan ada mata kuliah penting yang harus segera aku masuki. Sopir angkot dengan wajah sangarnya, memaki anak laki-laki itu dari dalam angkotnya. Tapi si anak laki-laki itu hanya tersenyum, dan berlari ke arahku.
"Ayo, masuk kelas! Kita telat!" katanya sambil berlari mendahuluiku. Aku hanya terpaku melihat dia berlalu. Jantungku saja masih berdetak kencang melihat dia hampir tertabrak, tapi dia kelihatan sangat santai. Aku mengikutinya dari belakang. Sampai di depan pintu kelas, dia mengetok pintu yang sudah tertutup rapat pertanda dosen sudah masuk. Aku hanya memperhatikannya tanpa berkata sepatah katapun. Sebenarnya sudah pasti kami tidak diizinkan lagi masuk, karena dosen mata kuliah ini sangat disiplin. Tapi dia tetap mengetuk pintu itu sekali lagi kali ini dengan ketukan yang lebih keras.
Tidak ada pertanda kami diizinkan masuk, hanya terdengar suara dosen sedang menjelaskan di depan kelas yang sangat hening. Aku mulai gugup, udara seakan semakin dingin di sekitarku, aku menggigil. Dia melihatku, "kedinginan?" tanyanya. Aku tidak menjawab. Yang ada di otakku cuma absen. Semoga kali ini dosennya lupa mengabsen mahasiswa yang telat. Aku gelisah sekali, mau masuk kelas tapi takut, tidak masuk kelas makin takut. Hujan makin lebat, dia menarik tanganku dan berjalan menuju kantin.
"Kamu pucat, gak sarapan tadi pagi?" tanyanya. Aku cuma menggelengkan kepala saja. Memberi kode bahwa aku memang tidak sarapan tadi pagi. Kantin yang lokasinya tidak jauh dari kelas kami tampak sunyi, tidak ada satu mahasiswapun yang berada disana. Dan kali ini ada, yaitu kami berdua. Kami duduk di sebuah meja kecil porsi 2 orang. Kemudian pelayan menghampiri dan menanyakan menu yang ingin kami pesan.
"Pesan teh hangat 2 ya mas.." pintanya.
"Eh.. kamu ngga pesan makan sekalian?" tanyanya lagi padaku.
"Emm.. pengen mqesan makanan, tapi segan kalau makan sendiri." jawabku. Dia tersenyum ke arahku.
"Oh yauda, kalo gitu pesan aja makanannya nanti rangkap dua." katanya lagi.
"Mmm.. pesan bakso aja deh" kataku.
"Teh hangat sama baksonya rangkap 2 ya mas." katanya kepada pelayan kantin.
Pelayan kantin itu pergi. Suasana berganti mulai hangat meski hujan masih turun. Aku mengecek henponku, mencoba menanyakan situasi kelas saat ini pada teman-temanku. Tidak ada yang merespon. Terang saja, tidak ada yang berani berkutik ketika dosen itu yang masuk. Aku pasrah.
Tak lama kemudian pesanan kami datang. Aku langsung menyeruput teh hangat yang baru diletakkan pelayan.
"Haus?? Haha" tanyanya setengah bercanda sambil melihat aku minum. Aku hanya diam, dan tidak menghiraukan kata-katanya.
"Yauda, makan juga nii." katanya lagi sambil menggeser mangkuk bakso ke arahku.
"Makan yang banyak biar gak pucat. Lagian pagi-pagi gak sarapan mau coba masuk kelas Pak Sukro, bisa pingsan lah di dalam. Hahahaha" dia berbicara sambil tertawa kepadaku. Aku hanya diam melihatnya, kemudian menyantap bakso di depanku. Dia juga ikut makan. Setelah selesai makan, aku bertanya "Tadi kenapa bisa sampe hampir tertabrak?" Dia tersenyum, sambil merapikan rambutnya yang hamir kering.
"Ditanya kenapa, malah nyengir" kataku.
"Hahaha dari tadi kamu gak mau ngomong sama aku. Tpi abis makan langsung bisa ngomong ya.. hahahaha" katanya sambil tertawa. Aku jengkel. Dalam hati berkata "Mendingan ngga usah ngomong aja dari tadi sama ni bocah. Lain ditanya, lain dijawab."
Kemudian dia melanjutkan, "Tadi aku mau ngejar kamu, udah aku panggil-panggil dari simpang kamu ngga dengar, pas kamu nyebrang ya aku ikutan nyebrang, angkotnya aja yang ngebut sampe mau nabrak. Hahaha" jawabnya tidak serius.
"Oyaaa?? Maaaaasa siiiih?" tanya ku dengan nada bercanda.
"Iya. Aku tadi ngejar kamu cuma mau bilang kalo ini jatuh." katanya sambil menunjukkan gantungan kunciku.
"Oh, itu bukan jatuh, emang udah aku buang kok" kataku.
"Kok dibuang? Kan masih bagus. Buat aku aja ya" katanya.
"Terserah.." jawabku. Kemudian dia memasukkan gantungan kunci itu ke kantong celananya.
"Terus kita gimana dong sama Pak Sukro, kalo ngga masuk kan bisa dikasi nilai E nih. Aku ngga mau dapet nilai E." kataku lagi.
"Ya kita harus ngelapor la ke kantornya." katanya santai.
"Terus alasan apa yang kira-kira bisa buat Pak Sukro percaya dan mau ngampuni kesalahan kita?" tanyaku lagi dengan serius.
"Ya, kita bilang aja kita telat karna kita abis bulan madu tadi malam." katanya.
"Apa?" teriakku. Aku membelalakkan mataku kepadanya, dalam hati aku memaki "Dasar mesum! Cowok gapunya otak!"
"Hahahhahaha.. bercanda. Yaudah kita jujur aja lah sama Pak Sukro, mau gimana lagi?" katanya sambil ngekeh. Aku masih terbelalak melihat tingkah anak itu. Bisa-bisanya dia bersikap seakan tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya setelah kejadian ini. Aku mengecek hapeku lagi. Tidak ada tanda-tanda BBMku di Read teman-temanku.
"Abis mata kuliah ini kita langsung ke kantor Pak Sukro aja ya. Biar cepat kelar. Ya kalo mujur, kita di kasi tugas, kalo apes, ya mau gimana lagi? Yang penting kita udah ngelapor" katanya kali ini dengan serius. Aku mulai sedikit lega. Akhirnya anak yang super santai ini bisa diajak serius juga.
Jam mata kuliah itu kami habiskan di kantin, dia bertanya kenapa aku membuang gantungan kunciku, tapi aku bilang karna sudah tidak jaman lagi pake gantungan kunci. Dan banyak perbincangan yang tidak penting yang kami lakukan.
*TO BE CONTINUED
2 komentar:
Keren Blog nya hehe
Makasi banyak Jhon Harkesandi :)
Posting Komentar
Say something please...